Rabu, 13 November 2013

Jangan Panggil Kami Orang Miskin

Pada kesempatan kali ini gue mau bercerita tentang pengalaman teman gue di kampung. Sebelumnya bolehlah gue cerita sedikit tentang kampung gue. Nama kampungnya Linggapura, sekilas mirip nama tempat dimana lo bisa poto bareng patung singa, tempat dimana para pengusaha, pejabat, selebritis (singapore panas banget) menghambur-hamburkan duit buat belanja, buat judi di casino megah, juga buat liburan yang padahal alam indonesia jauh lebih bagus dari punya mereka, ironis.

Kembali ke Linggapura, kampung ini letaknya cukup jauh buat kalian yang belum terbiasa tapi menurut gue itu......jauh banget kenapa gue bilang jauh banget? jalannya itu sob.... seperti berkuda. kalan akan membutuhkan istirahat + tukang urut selepas sampe rumah gue, ini salah satu alasan kenapa gue jarang pulang kampung.

Kondisi masyarakat yang majemuk, terdiri dari berbagai suku membuat kampung gue ini lebih berwarna. Kebanyakan penduduk berprofesi sebagai petani yang menurut gue ini profesi mulia kedua setelah guru, guru yang bermartabat tentunya. Gue berasumsi seperti ini bukan tanpa alasan, tanpa petani kalian mau makan apa sob?? padahal hasil bertani tidaklah buruk, tidak sedikit petani di kampung gue yang sukses.
Namun ironisnya sebagian besar pemuda & pemudi di Linggapura yang hanya berpendidikan SMP hingga SMA dan sebagian besar itu memilih untuk merantau menjadi buruh di ibukota atau bahkan mencoba menjadi pahlawan, pahlawan devisa. Tidak banyak dari mereka yang berhasil, dari cerita yang gue denger sih, hanya cukup untuk kehidupan mereka di luar sana dan untuk kredit motor agar waktu mereka pulang kampung bisa dengan mudah pamer rambut pirang, kemeja jeans, sandal eiger dan celana chino nya.

Yaah, begitulah kira-kira gambaran sosio kultur masyarakat Linggapura, balik ke cerita tentang temen gue, jadi temen gue ada yang entah dia memang berpikir lebih baik hujan batu di kampung sendiri daripada hujan emas di negeri orang atau memang gak berani merantau, jadi dia memutuskan buat jadi penerus orangtuanya, jadi sopir buat ngangkutin orang Linggapura yang mau "turun" ke kota entah untuk belanja atau hanya liburan.

Suatu ketika temen gue sebut saja didin dapet rejeki nih, yaitu nganter orang-orang kampung gue ngambil BLSM (bantuan langsung sementara masyarakat) program pemerintah yang menurut gue gak efektif buat bantu orang tidak mampu, coba duit segitu dibuat perbaikan infrastruktur misal jalan gitu... biar gue gak males pulang kampung, gue rasa itu lebih efektif pak beye.. kembali ke cerita, ngambil duit BLSM ini harus di kantor pos, sedangkan kantor pos terdekat itu adanya di bandar sari, sekitar 20km dari kampung gue 1 jam perjalanan naik mobil atau 1 hari perjalanan dengan berkuda.

Perjalanan si didin dengan membawa penumpang BLSM awalnya lancar jaya, sampai suatu ketika didin berpapasan dengan teman sesama sopir di tengah jalan, didin kemudian berhenti sejenak, saling sapa, ngobrol kira-kira 2 menit, namun itulah 2 menit sumber petaka bagi didin.
Perjalanan kemudian dilanjutkan namun dalam perjalanan menuju kantor pos tersebut ada yang aneh, suasana yang tadinya hangat, obrolan yang mengalir seketika suasana kabin sunyi, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing (emang kegiatan dalam mobil yang jalannya jelek apa ya selain goyang-goyang karena kondisi jalan?) Didin kemudian bingung 6 keliling dengan hal tersebut, dia mau bertanya kenapa tapi dia mengurungkan niat karena takut salah bicara.
Setelah sampai kantor pos, didin ke warung kopi sambil menunggu para pengambil BLSM selesai dengan urusannya, didin pun teringat sesuatu, sesuatu yang merubah suasana kabin, sesuatu yang merubah hawa panas dalam mobil menjadi "dingin", sesuatu yang merubah negara api...eh.. maaf maaf... *fokus fokus* ya, sesuatu itu adalah 2 menit obrolannya bersama temannya, didin baru ingat, ketika dia ngobrol bersama temannya, temennya sempat bertanya "arep mengendi??" "oh, iki ngeterke wong miskin jupok BLSM" "bla..bla..bla..."
terjemahan : T = teman didin D =didin
T : "mau kemana, brooo??
D : "kepo banget lo bro, mau tau aja apa mau tau banget?"
T : "zzzzzzzzz, serius bro, mau kemandose lo??"
D : "ini mau nganter orang miskin ngambil BLSM"
......."bla bla bla"...........

Jegerrrrrrrr!!!! tersentak didin, ternyata ini yang membuat suasana kabin jadi seperti kulkas, ternyata obrolan dengan temannya itulah yang membuat para pengambil BLSM kesal dengan dirinya, antara bingung dan geli, didin akhirnya ngerti penyebabnya.
Setelah para pengambil BLSM selesai dengan urusannya, mereka pun pulang, sama seperti saat berangkat tadi susasana masih hening, ternyata mereka ngambek cyyynnnnnn.....
Didin tak begitu memperdulikan mereka, yang penting setoran lanjar euuyyy..

FYI, ini kisah nyata loh!!
the end :))


Tidak ada komentar:

Posting Komentar