Kamis, 30 Oktober 2014

Lebih dari sekedar.....

Oke, setelah gue nyingkirin gunting, cutter, tali dan cairan pembersih lantai dari hadapan gue, gue coba ngambil laptop.. minjem laptop lebih tepatnya, dan coba menuangkan isi hati gue. Bukankah perasaan apapun itu, senang atau sedih, lebih baik dicurahkan? Tapi, jika mencurahkan isi hati ke orang yang tidak tepat, bukan ide bagus, bukan? Jadi gue milih lewat tulisan. Biar produktif.... dikit.
Berawal dari alunan accoustic Mas Glen Fredly yang akhir cerita cinta atau apa itulah yang menyayat hati, meski hati ini sudah tidak butuh sayatan, already broke, hancur.. ini memang salah gue, tapi sifat manusiawi gue yang gak mau disalahin kadang lebih besar dari sifat gue lainnya yang lebih baik seperti sabar misalnya. Akhirnya gue bilang “kita putus aja, aku serius” dan sesosok wanita diujung telepon yang sebenarnya gue harepin untuk jadi ibu dari anak-anak gue terdiam. Tanpa ampun gue langsung mencet tombol gagang telepon warna merah di ponsel ceng-cengpo gue. Hening seketika. Dan seketika itu pula gue inget quote yang kira-kira begini bunyinya “dont make permanent decision for your temporary emotion (anger)”. Sialnya, kenapa gak dari tadi ketika gue berargumen dengan dia quote itu terniang? Fix, putus?
Malam temaram, mendung yang berhasil mengkudeta langit, menyembunyikan kilau redup bintang dengan angkuh. Tembang lawas dari kamar gue berdendang dengan voleme hampir maksimal, kamar sebelah yang hanya berjarak beberapa meter dari kamar gue gak mau kalah, deru drum dan raungan vokalis metal seakan tak mau mengalah dengan alunan lembut Mas Glen yang gue setel, seakan berlomba memecah hening.
Melamun sejenak sembari memilah musik mana yang hendak menemani lamunanku membawaku kedalam memori indah juga tak indah dalam hubungan gue yang kurang lebih 3 tahun 7 bulan bertahan walau dengan beberapa insiden putus nyambung. Ah, membayangkan momen gak menyenangkan saja membuat gue (menangis) bahagia, apalagi momen indah? yang gak menyenangkan saja bisa jadi indah kalo sama dia, godaku dalam hati.. eh godain diri sendiri? Eh..
Hidup terasa lebih berat ketika lulus kuliah, apalagi sarjana dengan IPK pas-pasan dan skill yang gak kalah pas-pasan tapi dengan mimpi dan ekspektasi selangit. Apalagi, fresh graduate yang serba pas-pasan dengan idealisme yang masih menggebu “kalo kerja gak sesuai disiplin ilmu, buat apa gue kuliah jurusan ini?” kadang dialog imajiner yang tak sepenuhnya benar  dan atau tak sepenuhnya salah ini meracuni pikiran gue. Benar saja, stress level gue naik beberapa bulan setelah lulus kuliah. Dorongan untuk segera bekerja dan mandiri secara finansial dari orangtua, saudara, teman, dia dan bahkan diri gue sendiri selalu sukses membuat gue terbebani. Dorongan dan motivasi dari mereka seakan sebuah tekanan buat gue, maksud mereka pastilah baik, tapi mungkin guenya yang belum bisa memenuhi ekspektasi mereka, ekspektasi gue juga tentunya. Dorongan dan motivasi mereka gue salah artikan sebagai tekanan, karena memang seperti itu yang gue rasakan belakangan ini, dan ini juga yang akhirnya membuat gue memutuskan untuk menambah moto hidup baru “pantang pulang sebelum dapat kerjaan” iya, ini bagian dari keegoisan gue. Malu, galau, gerah, pusing, pegel linu, encok semua jadi satu dalam seorang gue.

Memiliki kekasih dengan kemandirian finansial yang lebih dari cukup merupakan sebuah kebanggaan, tapi kadang jadi bumerang, jadi beban –beban serupa motivasi untuk lebih dari dia tentunya-, kadang juga cibiran. Dan akhirnya setelah beberapa insiden yang semakin membuat stress level gue makin memuncak, gue putusin pacar yang 3 tahun 7 bulan terakhir memberi warna dikehidupan gue, gue Cuma gak pingin dia “susah” terus bersama gue, jujur gue akuin dia gak se-level, dia layak dapet yang lebih dari hanya sekedar.........Gilang.

Kamis, 14 November 2013

Belum Ada Judul 1



Sore itu, di saat langit perlahan tapi pasti berubah gelap dari sebelumnya cerah, angin yang semula terasa gerah berubah dingin membawa partikel air yang tak nampak oleh mata telanjang. Satu per satu, hewan ternak mulai masuk kedalam kandangnya, para pemilik surga ditelapak kaki kalang kabut menyerbu pekarangan masing-masing, menyelamatkan pakaian agar tak basah. Aku mulai mengemasi barang bawaan, dengan cekatan charger yang masih tertancap aku cabut, kemudian aku gulung, beberapa pakaian sudah terbungkus rapi dalam tas. Samar-samar bersama aroma petrichor yang semerbak terdengar langkah kaki menuju kamarku. “ah, ini pasti ibu..” gumamku dalam hati memecah argumen dalam kepala yang saling membujuk hatiku untuk tidak berangkat. “kau jadi berangkat, nak?” seperti terlibat dalam percakapan batinku, ibu tiba-tiba berucap.. “jadi bu..” jawabku singkat tanpa menoleh kearah ibu yang berdiri seperti mengawasiku tepat didepan pintu kamar. “jangan lupa pamit sama bapakmu” sahut ibu yang kemudian pergi dengan raut gelisah, takut, atau mungkin tidak rela melepas kepergian anak laki-laki satu-satunya yang memutuskan untuk merantau mengikuti ajakan teman sebayanya yang sudah dari setahun lalu merantau ke Jakarta untuk merubah nasib.
Setelah semua perlengkapan aku rasa tidak ada yang tertinggal, aku keluar dari kamar masih dengan argument liar dalam kepala, seperti berat rasanya meninggalkan kampungku, meninggalkan keluargaku. Namun akal sehat kali ini menang atas hati kecil dalam pertempuran batinku. Bergegas aku menuju ruang tamu yang letaknya dua ruangan dari kamarku. Kamar orangtuaku tepat disebelah ruang tamu dimana di ruang tamu itu sudah duduk sosok dengan perawakan sedang yang tampak hanya mengenakan sarung dan kaos oblong di kursi yang terbuat dari rotan, dengan tangan kanan yang masih memegang  secangkir teh hangat dan jari-jari tangan kiri menjepit sebatang rokok. Sorot matanya terlihat teduh, tenang, namun kosong seperti menerawang jauh kedepan, entah dimana itu, seperti ada yang dipikirkan selain bagaimana asap rokok yang baru dia hisap dikeluarkan, perlahankah? Atau sedikit lebih cepat?
“sudah yakin?” ujarnya… “yakin pak..” “bapak hanya bisa mendoakan, kamu jaga diri dan perilaku mu dan jangan pernah tinggalkan yang 5 waktu..” “iya pak..” begitulah percakapan singkat dengan bapak yang kemudian kembali memandang kosong kedepan. Kemudian ibu keluar dari kamar dan memberiku beberapa lembar uang, “ini untuk pegangan..” "iya bu terimakasih" jawabku pelan, ingin rasanya aku menangis sekencang-kencangnya ketika adegan yang kami lakukan ini berlangsung, tapi aku membatukan perasaanku, aku tak ingin melihat ibu ikut menangis.
Setelah menyalami kedua orangtuaku, aku kemudian melenggang bersama rintik hujan, seakan langitpun tak kuasa menahan pilu atas kepergianku, atau mungkin itu representasi dari tangis ibu yang tak keluar saat melepasku tadi? Entahlah, aku coba menepis hal-hal yang bisa saja menjegal kepergianku, tangis ibu salah satunya.

Rabu, 13 November 2013

Jangan Panggil Kami Orang Miskin

Pada kesempatan kali ini gue mau bercerita tentang pengalaman teman gue di kampung. Sebelumnya bolehlah gue cerita sedikit tentang kampung gue. Nama kampungnya Linggapura, sekilas mirip nama tempat dimana lo bisa poto bareng patung singa, tempat dimana para pengusaha, pejabat, selebritis (singapore panas banget) menghambur-hamburkan duit buat belanja, buat judi di casino megah, juga buat liburan yang padahal alam indonesia jauh lebih bagus dari punya mereka, ironis.

Kembali ke Linggapura, kampung ini letaknya cukup jauh buat kalian yang belum terbiasa tapi menurut gue itu......jauh banget kenapa gue bilang jauh banget? jalannya itu sob.... seperti berkuda. kalan akan membutuhkan istirahat + tukang urut selepas sampe rumah gue, ini salah satu alasan kenapa gue jarang pulang kampung.

Kondisi masyarakat yang majemuk, terdiri dari berbagai suku membuat kampung gue ini lebih berwarna. Kebanyakan penduduk berprofesi sebagai petani yang menurut gue ini profesi mulia kedua setelah guru, guru yang bermartabat tentunya. Gue berasumsi seperti ini bukan tanpa alasan, tanpa petani kalian mau makan apa sob?? padahal hasil bertani tidaklah buruk, tidak sedikit petani di kampung gue yang sukses.
Namun ironisnya sebagian besar pemuda & pemudi di Linggapura yang hanya berpendidikan SMP hingga SMA dan sebagian besar itu memilih untuk merantau menjadi buruh di ibukota atau bahkan mencoba menjadi pahlawan, pahlawan devisa. Tidak banyak dari mereka yang berhasil, dari cerita yang gue denger sih, hanya cukup untuk kehidupan mereka di luar sana dan untuk kredit motor agar waktu mereka pulang kampung bisa dengan mudah pamer rambut pirang, kemeja jeans, sandal eiger dan celana chino nya.

Yaah, begitulah kira-kira gambaran sosio kultur masyarakat Linggapura, balik ke cerita tentang temen gue, jadi temen gue ada yang entah dia memang berpikir lebih baik hujan batu di kampung sendiri daripada hujan emas di negeri orang atau memang gak berani merantau, jadi dia memutuskan buat jadi penerus orangtuanya, jadi sopir buat ngangkutin orang Linggapura yang mau "turun" ke kota entah untuk belanja atau hanya liburan.

Suatu ketika temen gue sebut saja didin dapet rejeki nih, yaitu nganter orang-orang kampung gue ngambil BLSM (bantuan langsung sementara masyarakat) program pemerintah yang menurut gue gak efektif buat bantu orang tidak mampu, coba duit segitu dibuat perbaikan infrastruktur misal jalan gitu... biar gue gak males pulang kampung, gue rasa itu lebih efektif pak beye.. kembali ke cerita, ngambil duit BLSM ini harus di kantor pos, sedangkan kantor pos terdekat itu adanya di bandar sari, sekitar 20km dari kampung gue 1 jam perjalanan naik mobil atau 1 hari perjalanan dengan berkuda.

Perjalanan si didin dengan membawa penumpang BLSM awalnya lancar jaya, sampai suatu ketika didin berpapasan dengan teman sesama sopir di tengah jalan, didin kemudian berhenti sejenak, saling sapa, ngobrol kira-kira 2 menit, namun itulah 2 menit sumber petaka bagi didin.
Perjalanan kemudian dilanjutkan namun dalam perjalanan menuju kantor pos tersebut ada yang aneh, suasana yang tadinya hangat, obrolan yang mengalir seketika suasana kabin sunyi, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing (emang kegiatan dalam mobil yang jalannya jelek apa ya selain goyang-goyang karena kondisi jalan?) Didin kemudian bingung 6 keliling dengan hal tersebut, dia mau bertanya kenapa tapi dia mengurungkan niat karena takut salah bicara.
Setelah sampai kantor pos, didin ke warung kopi sambil menunggu para pengambil BLSM selesai dengan urusannya, didin pun teringat sesuatu, sesuatu yang merubah suasana kabin, sesuatu yang merubah hawa panas dalam mobil menjadi "dingin", sesuatu yang merubah negara api...eh.. maaf maaf... *fokus fokus* ya, sesuatu itu adalah 2 menit obrolannya bersama temannya, didin baru ingat, ketika dia ngobrol bersama temannya, temennya sempat bertanya "arep mengendi??" "oh, iki ngeterke wong miskin jupok BLSM" "bla..bla..bla..."
terjemahan : T = teman didin D =didin
T : "mau kemana, brooo??
D : "kepo banget lo bro, mau tau aja apa mau tau banget?"
T : "zzzzzzzzz, serius bro, mau kemandose lo??"
D : "ini mau nganter orang miskin ngambil BLSM"
......."bla bla bla"...........

Jegerrrrrrrr!!!! tersentak didin, ternyata ini yang membuat suasana kabin jadi seperti kulkas, ternyata obrolan dengan temannya itulah yang membuat para pengambil BLSM kesal dengan dirinya, antara bingung dan geli, didin akhirnya ngerti penyebabnya.
Setelah para pengambil BLSM selesai dengan urusannya, mereka pun pulang, sama seperti saat berangkat tadi susasana masih hening, ternyata mereka ngambek cyyynnnnnn.....
Didin tak begitu memperdulikan mereka, yang penting setoran lanjar euuyyy..

FYI, ini kisah nyata loh!!
the end :))


Senin, 11 November 2013

Kata Pengantar

selamat malam blogger.
ini adalah goresan tinta pertama gue di lembaran blog, hanya sebagai sarana menyalurkan hobby saja sih sebenernya.
kadang kalian ingin ngobrol, berdiskusi, atau bahasa gaulnya curhat, perasaan yang manusiawi (bukan begitu pak presiden?). tapi ketika tidak ada teman curhat yang frekwensinya sama, obrolan ngalur ngidul dan gak jelas sudah pasti hasilnya.
mungkin itu salah satu alasan gue buat blog ini, hehe.

salah duanya, jujur gue hobby nulis, kenapa hobby nulis gue ini baru tersalurkan sekarang? karena sejak era komputer modern ada, biarpun tulisan tangan gue gak jauh beda sama dokter obgyn yang abis bantu ngelahirin anakan kuda nil prematur, tulisan gue tetep sama layaknya tulisan pak SBY, yang ngebedain cuma font yang gue pilih.

salah tiganya, kalian tau twitter? yap, seratus.. semacam pakaian untuk cuaca dingin agar kehangatan tubuh terjaga.. (itu sweater mas /kalem) oh maaf, maksud gue bukan itu.
menurut gue, 140 karakter itu cuma cukup buat kalian ngetwit status atau keluhan, bukan curhat.

awalnya gue bingung nentuin apa yang mau gue curhatin di blog ini, tapi setelah gue bersila, berdiam diri di teras masjid sambil sesekali nengok areal "batas suci" berharap swallow gue dituker sama orang pake eiger (ini ngarep tapi nanggung banget, cuma ngarep eiger, man?) akhirnya gue memutuskan "kenapa gak nulis tentang hidup gue yang kalo gue buat kopi, sebanyak apapun gula lo campur ke adonan kopi itu, tetep terasa pahit...pahit men.... iya, hidup gue pahit.
pahitnya jadi anak pesantren, pahitnya ikut saudara, pahitnya merantau di kota, pahitnya jadi anak kos, pahitnya jadi mahasiswa, dan pahitnya LDR. manisnya? banyak, tapi buat gue aja.. haha

sebenarnya masih banyak sih alasan gue buat memutuskan pindah haluan dari pekerjaan gue sebelumnya, nganggur, menuju penulis amatir dan garing ini, kalo kalian mau tau alasan lainnya, hubungin manajer gue aja biar diatur waktu kita buat makan bareng (khusus cewek)



*ya allah, ternyata gue bisa nulis T_T