Oke, setelah gue nyingkirin
gunting, cutter, tali dan cairan
pembersih lantai dari hadapan gue, gue coba ngambil laptop.. minjem laptop
lebih tepatnya, dan coba menuangkan isi hati gue. Bukankah perasaan apapun itu,
senang atau sedih, lebih baik dicurahkan? Tapi, jika mencurahkan isi hati ke
orang yang tidak tepat, bukan ide bagus, bukan? Jadi gue milih lewat tulisan. Biar
produktif.... dikit.
Berawal dari alunan accoustic Mas Glen Fredly yang akhir
cerita cinta atau apa itulah yang menyayat hati, meski hati ini sudah tidak
butuh sayatan, already broke,
hancur.. ini memang salah gue, tapi sifat manusiawi gue yang gak mau disalahin
kadang lebih besar dari sifat gue lainnya yang lebih baik seperti sabar
misalnya. Akhirnya gue bilang “kita putus aja, aku serius” dan sesosok wanita
diujung telepon yang sebenarnya gue harepin untuk jadi ibu dari anak-anak gue
terdiam. Tanpa ampun gue langsung mencet tombol gagang telepon warna merah di
ponsel ceng-cengpo gue. Hening seketika.
Dan seketika itu pula gue inget quote
yang kira-kira begini bunyinya “dont make
permanent decision for your temporary emotion (anger)”. Sialnya, kenapa gak
dari tadi ketika gue berargumen dengan dia quote
itu terniang? Fix, putus?
Malam temaram, mendung yang
berhasil mengkudeta langit, menyembunyikan kilau redup bintang dengan angkuh. Tembang
lawas dari kamar gue berdendang dengan voleme hampir maksimal, kamar sebelah
yang hanya berjarak beberapa meter dari kamar gue gak mau kalah, deru drum dan
raungan vokalis metal seakan tak mau mengalah dengan alunan lembut Mas Glen
yang gue setel, seakan berlomba memecah hening.
Melamun sejenak sembari memilah
musik mana yang hendak menemani lamunanku membawaku kedalam memori indah juga
tak indah dalam hubungan gue yang kurang lebih 3 tahun 7 bulan bertahan walau
dengan beberapa insiden putus nyambung. Ah, membayangkan momen gak menyenangkan
saja membuat gue (menangis) bahagia, apalagi momen indah? yang gak menyenangkan
saja bisa jadi indah kalo sama dia, godaku dalam hati.. eh godain diri sendiri?
Eh..
Hidup terasa lebih berat ketika
lulus kuliah, apalagi sarjana dengan IPK pas-pasan dan skill yang gak kalah pas-pasan tapi dengan mimpi dan ekspektasi selangit.
Apalagi, fresh graduate yang serba
pas-pasan dengan idealisme yang masih menggebu “kalo kerja gak sesuai disiplin
ilmu, buat apa gue kuliah jurusan ini?” kadang dialog imajiner yang tak
sepenuhnya benar dan atau tak sepenuhnya
salah ini meracuni pikiran gue. Benar saja,
stress level gue naik beberapa bulan setelah lulus kuliah. Dorongan untuk
segera bekerja dan mandiri secara finansial dari orangtua, saudara, teman, dia
dan bahkan diri gue sendiri selalu sukses membuat gue terbebani. Dorongan dan
motivasi dari mereka seakan sebuah tekanan buat gue, maksud mereka pastilah
baik, tapi mungkin guenya yang belum bisa memenuhi ekspektasi mereka,
ekspektasi gue juga tentunya. Dorongan dan motivasi mereka gue salah artikan
sebagai tekanan, karena memang seperti itu yang gue rasakan belakangan ini, dan
ini juga yang akhirnya membuat gue memutuskan untuk menambah moto hidup baru “pantang
pulang sebelum dapat kerjaan” iya, ini bagian dari keegoisan gue. Malu, galau,
gerah, pusing, pegel linu, encok semua jadi satu dalam seorang gue.
Memiliki kekasih dengan
kemandirian finansial yang lebih dari cukup merupakan sebuah kebanggaan, tapi
kadang jadi bumerang, jadi beban –beban serupa motivasi untuk lebih dari dia
tentunya-, kadang juga cibiran. Dan akhirnya setelah beberapa insiden yang
semakin membuat stress level gue
makin memuncak, gue putusin pacar yang 3 tahun 7 bulan terakhir memberi warna
dikehidupan gue, gue Cuma gak pingin dia “susah” terus bersama gue, jujur gue
akuin dia gak se-level, dia layak
dapet yang lebih dari hanya sekedar.........Gilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar