Sore itu, di saat langit perlahan
tapi pasti berubah gelap dari sebelumnya cerah, angin yang semula terasa gerah berubah
dingin membawa partikel air yang tak nampak oleh mata telanjang. Satu per satu,
hewan ternak mulai masuk kedalam kandangnya, para pemilik surga ditelapak kaki
kalang kabut menyerbu pekarangan masing-masing, menyelamatkan pakaian agar tak
basah. Aku mulai mengemasi barang bawaan, dengan cekatan charger yang masih tertancap
aku cabut, kemudian aku gulung, beberapa pakaian sudah terbungkus rapi dalam
tas. Samar-samar bersama aroma petrichor
yang semerbak terdengar langkah kaki menuju kamarku. “ah, ini pasti ibu..”
gumamku dalam hati memecah argumen dalam kepala yang saling membujuk hatiku
untuk tidak berangkat. “kau jadi berangkat, nak?” seperti terlibat dalam
percakapan batinku, ibu tiba-tiba berucap.. “jadi bu..” jawabku singkat tanpa
menoleh kearah ibu yang berdiri seperti mengawasiku tepat didepan pintu kamar. “jangan
lupa pamit sama bapakmu” sahut ibu yang kemudian pergi dengan raut gelisah,
takut, atau mungkin tidak rela melepas kepergian anak laki-laki satu-satunya
yang memutuskan untuk merantau mengikuti ajakan teman sebayanya yang sudah dari
setahun lalu merantau ke Jakarta untuk merubah nasib.
Setelah semua perlengkapan aku
rasa tidak ada yang tertinggal, aku keluar dari kamar masih dengan argument liar
dalam kepala, seperti berat rasanya meninggalkan kampungku, meninggalkan
keluargaku. Namun akal sehat kali ini menang atas hati kecil dalam pertempuran
batinku. Bergegas aku menuju ruang tamu yang letaknya dua ruangan dari kamarku.
Kamar orangtuaku tepat disebelah ruang tamu dimana di ruang tamu itu sudah
duduk sosok dengan perawakan sedang yang tampak hanya mengenakan sarung dan
kaos oblong di kursi yang terbuat dari rotan, dengan tangan kanan yang masih
memegang secangkir teh hangat dan
jari-jari tangan kiri menjepit sebatang rokok. Sorot matanya terlihat teduh,
tenang, namun kosong seperti menerawang jauh kedepan, entah dimana itu, seperti
ada yang dipikirkan selain bagaimana asap rokok yang baru dia hisap
dikeluarkan, perlahankah? Atau sedikit lebih cepat?
“sudah yakin?” ujarnya… “yakin
pak..” “bapak hanya bisa mendoakan, kamu jaga diri dan perilaku mu dan
jangan pernah tinggalkan yang 5 waktu..” “iya pak..” begitulah percakapan singkat
dengan bapak yang kemudian kembali memandang kosong kedepan. Kemudian ibu
keluar dari kamar dan memberiku beberapa lembar uang, “ini untuk pegangan..”
"iya bu terimakasih" jawabku pelan, ingin rasanya aku menangis sekencang-kencangnya ketika adegan yang kami lakukan ini berlangsung, tapi aku membatukan perasaanku, aku tak ingin melihat ibu ikut menangis.
Setelah menyalami kedua orangtuaku, aku kemudian melenggang
bersama rintik hujan, seakan langitpun tak kuasa menahan pilu atas kepergianku,
atau mungkin itu representasi dari tangis ibu yang tak keluar saat melepasku
tadi? Entahlah, aku coba menepis hal-hal yang bisa saja menjegal kepergianku,
tangis ibu salah satunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar