Kamis, 14 November 2013

Belum Ada Judul 1



Sore itu, di saat langit perlahan tapi pasti berubah gelap dari sebelumnya cerah, angin yang semula terasa gerah berubah dingin membawa partikel air yang tak nampak oleh mata telanjang. Satu per satu, hewan ternak mulai masuk kedalam kandangnya, para pemilik surga ditelapak kaki kalang kabut menyerbu pekarangan masing-masing, menyelamatkan pakaian agar tak basah. Aku mulai mengemasi barang bawaan, dengan cekatan charger yang masih tertancap aku cabut, kemudian aku gulung, beberapa pakaian sudah terbungkus rapi dalam tas. Samar-samar bersama aroma petrichor yang semerbak terdengar langkah kaki menuju kamarku. “ah, ini pasti ibu..” gumamku dalam hati memecah argumen dalam kepala yang saling membujuk hatiku untuk tidak berangkat. “kau jadi berangkat, nak?” seperti terlibat dalam percakapan batinku, ibu tiba-tiba berucap.. “jadi bu..” jawabku singkat tanpa menoleh kearah ibu yang berdiri seperti mengawasiku tepat didepan pintu kamar. “jangan lupa pamit sama bapakmu” sahut ibu yang kemudian pergi dengan raut gelisah, takut, atau mungkin tidak rela melepas kepergian anak laki-laki satu-satunya yang memutuskan untuk merantau mengikuti ajakan teman sebayanya yang sudah dari setahun lalu merantau ke Jakarta untuk merubah nasib.
Setelah semua perlengkapan aku rasa tidak ada yang tertinggal, aku keluar dari kamar masih dengan argument liar dalam kepala, seperti berat rasanya meninggalkan kampungku, meninggalkan keluargaku. Namun akal sehat kali ini menang atas hati kecil dalam pertempuran batinku. Bergegas aku menuju ruang tamu yang letaknya dua ruangan dari kamarku. Kamar orangtuaku tepat disebelah ruang tamu dimana di ruang tamu itu sudah duduk sosok dengan perawakan sedang yang tampak hanya mengenakan sarung dan kaos oblong di kursi yang terbuat dari rotan, dengan tangan kanan yang masih memegang  secangkir teh hangat dan jari-jari tangan kiri menjepit sebatang rokok. Sorot matanya terlihat teduh, tenang, namun kosong seperti menerawang jauh kedepan, entah dimana itu, seperti ada yang dipikirkan selain bagaimana asap rokok yang baru dia hisap dikeluarkan, perlahankah? Atau sedikit lebih cepat?
“sudah yakin?” ujarnya… “yakin pak..” “bapak hanya bisa mendoakan, kamu jaga diri dan perilaku mu dan jangan pernah tinggalkan yang 5 waktu..” “iya pak..” begitulah percakapan singkat dengan bapak yang kemudian kembali memandang kosong kedepan. Kemudian ibu keluar dari kamar dan memberiku beberapa lembar uang, “ini untuk pegangan..” "iya bu terimakasih" jawabku pelan, ingin rasanya aku menangis sekencang-kencangnya ketika adegan yang kami lakukan ini berlangsung, tapi aku membatukan perasaanku, aku tak ingin melihat ibu ikut menangis.
Setelah menyalami kedua orangtuaku, aku kemudian melenggang bersama rintik hujan, seakan langitpun tak kuasa menahan pilu atas kepergianku, atau mungkin itu representasi dari tangis ibu yang tak keluar saat melepasku tadi? Entahlah, aku coba menepis hal-hal yang bisa saja menjegal kepergianku, tangis ibu salah satunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar